BARMAS Sulut Minta PT. MSM/TTN Turut Andil Dalam Pelestarian Adat Di Sulawesi Utara

Manado, Sulut68 Dilihat

BHARINDOSULUT.COM,Manado–Barisan Masyarakat Adat Sulawesi utara (BARMAS) yang berlatar belakang sebagai Organisasi masyarakat Adat yang terus memperjuangkan hak-hak masyarakat Sulawesi utara untuk tetap aman dan sejahtera dan berbudaya, telah bertahun-tahun memantau seluruh kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah Sulawesi utara dan pihak Korporasi yang ada di sulaweai utara, salah satunya adalah PT. MSM dan PT. TTN sebagai salah satu perusahaan tambang terbesar yang beroperasi di wilayah Sulawesi utara.

Kegiatan yang dilakukan oleh PT. MSM/TTN yang terus dilaksanakan sejak tahun 2017 silam sampai pada tahun 2021 ini terpantau bahwa, pada tahun 2017 melakukan pembiayaan sebesar 1,3 juta dolar terhadap program pemberdayaan masyarakat, ada juga membuat akses air bersih, pengembangan usaha-usaha masyarakat sekitar, yang menurut kami ini sangat baik sekali. Termasuk beasiswa dengan mengirimkan 59 orang anak muda untuk belajar di tiongkok, serta pelatihan sertifikasi 500 guru.

“Tetapi kemudian PT. MSM dan TTN mengabaikan budaya Adat istiadat yang di wariskan secara turun temurun dan berkembang di sulawesi utara. Pelestarian adat mulai dari tarian adat, Rumah adat, musik tradisional, pelestarian situs-situs budaya, dan banyak lagi yang berkaitan dengan budaya adat istiadat seakan tidak tersentuh oleh PT. MSM dan TTN yang melakukan kegiatan pertambangan di tanah minahasa yang sangat kental dengan budayanya,” timpal Tonaas Defly Brando Lengkey, SS Rabu, (17/12) di kediamannya.

Lanjutnya lagi, dengan dana CSR yang menurut informasi ada di angka kurang lebih 2 Triliun, PT. MSM dan TTN seharusnya menjalankan program yang menyentuh sampai pada masyarakat yang ekonominya rendah tetapi memiliki budaya, penganut adat, sehingga dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Sulawesi utara secara merata.

“Sebagai Pimpinan BARMAS Sulut, saya mengingatkan PT. MSM dan TTN dimana, anda sedang melakukan eksplorasi pertambangan di tanah minahasa, sehingga jangan sekali-kali melupakan budaya, adat istiadat, dan kearifan lokal yang sudah ada ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. (Maudy)

Komentar